Kamis, 08 Desember 2016

Interview : WIZARD "The Boundaries Towards Of Lost Love"

Yoaaaay, kali ini gue post interview gue bersama salah satu band darah muda dari kota belimbing Depok, yaitu WIZARD band yang mengusung aliran melodic/hc ini baru saja merilis album yang bertajuk "The Boundaries Towards Of Lost Love"  mari di simak gimana interviewnya, Cekidoot!

WIZARD 2016 by Ricky Suhanda

Halo Wizard apa kabar? Layaknya interview biasanya boleh diperkenalkan dulu masing masing personil saat ini, dan kesibukan dari masing masing personil apa ada projek yang lain selain di Wizard?

Halo, so far kabar kita hari ini sangat baik.
Sebelum saya menjawab beberapa pertanyaan, saya fikir ini adalah suatu pekerjaan yang begitu baik. Untuk itu saya mau berterima kasih banyak buat admin nya “ Spirit Of 16 “ yaitu, ( Alwan Elvino ) yang sudah bersedia interview kita. Oke langsung aja yaa J
Wizard terdiri dari 4 personil. Diantaranya Vocal ada Rangga, Guitar ada Begeng, Bass ada Azis, Drum ada Fauzan dan di pertengahan tahun 2016, saat ini kita juga dibantu oleh Ricky dari “ Brainwashed “ untuk Back Up guitar kita sebelumnya yang di isi oleh Rifa.
Beberapa personil kita aktif dalam Bekerja dan Kuliah. Selain projek di Wizard seperti kebanyakan personil pasti selalu punya projek lain, seperti Azis, Fauzan dan Ricky mereka juga terbentuk dalam “ Brainwashed “, lalu guitar kita Begeng saat ini juga sedang menjalankan rekaman album kedua nya bersama “ Still Burn “, juga menjadi guitar di salah satu band Hc/Punk asal Jakarta yaitu, “ Straight Answer “.

Boleh cerita awal mula Wizard terbentuk? Dan kenapa memilih nama Wizard?

Wizard berdiri pada tahun 2013 di kota kita sendiri yaitu, Depok.
Pada tahun itu posisi masing – masing band ini sudah terbentuk dengan beberapa personil sebelumnya, beberapa bulan band ini berjalan saat itu Vocal dan Guitar kita keluar. Setelah masuk di tahun 2014 posisi tersebut di gantikan oleh Rangga dan Begeng, lalu pada akhir tahun 2015 guitar kita Rifa juga memutuskan untuk keluar yang saat ini sudah dibantu oleh Ricky. Dan sampai saat sekarang Wizard terdiri dari beberapa nama yang sudah saya sebutkan di pertanyaan sebelumnya.
Kenapa kita memilih nama Wizard?
Menurut kita Wizard diartikan sebagai kata “ Penyihir “, bagi kami kata tersebut adalah bertujuan untuk menyihir banyak orang yang dapat melihat bagaimana kita beraksi diatas panggung. Merasakan bagaimana emosi yang kita keluarkan lewat lagu yang kita ciptakan. Dan secara bersamaan itu juga kita membuat mereka langsung jatuh cinta dengan apa yang mereka lihat saat kita berada di dalam show / gig yang biasa kalian temui.


Kalian juga bagian dari GTC yang waktu itu adain acara Mosh Never End di Porsea, boleh kasih tau ke para pembaca apa sih GTC itu?

Awalnya dari temen – temen lingkungan aja sih, dulu kita sering banget ngumpul setiap hari dimana biasanya kita menghabiskan banyak waktu untuk ngobrolin seputar band, gig, dan lain – lain. Waktu itu nama GTC belum terbentuk dan masih belum banyak yang ngumpul seperti sekarang, kurang lebih hanya 8 orang ingat saya. Namun karna setiap minggu kita sering dateng ke beberapa tempat acara di Depok, lama kelamaan bermunculan temen – temen yang senang mau ikut bergabung dan akhirnya terbentuk lah nama GTC. Saya sendiri gak bisa banyak menjelaskan apa sih GTC itu?
Yang jelas GTC sudah melebihi bagian dari teman atau bahkan kerabat dekat. Lebih tepatnya GTC adalah bagian dari keluarga juga menjadi rumah kedua untuk saya dan teman – teman.

Wizard at Modern Guns Release Party by Dimas Andika



 Pengaruh dari musik yang kalian mainkan saat ini?

Climates, Glances, More Than Life, Counterparts, Conveyer, The Best Pessimist, etc.


Kalian baru saja merilis album yang bertajuk “The Boundaries Toward Of Lost Love” boleh berbagi cerita berapa lama proses pengerjaannya apakah ada kesulitan?

Yooo, mungkin kali ini saya akan bercerita cukup panjang tentang pengerjaan EP album kami yang baru saja rilis di tahun 2016 ini, tepatnya pada bulan September lalu.
Sebenarnya kita sudah memulai masuk rekaman pada tahun 2014 lalu di salah satu studio di Cibubur, Jakarta Timur. Namun karna banyaknya kendala dan kesulitan akhirnya kita memutuskan untuk jeda recording kurang lebih selama 1 tahun. Banyak waktu yang terbuang dan sempat berfikir untuk mengakhiri recording karna mood kita sudah hilang untuk melanjutkan rekaman EP album ini. Dan beberapa personil kita juga saat itu sedang aktif di band lainnya, terhalang juga oleh Tour mereka ke beberapa kota di Jawa Tengah, dan dari kondisi studio tersebut juga yang selalu tidak tepat dengan jadwal senggang kita di luar aktifitas jam Kerja dan Kuliah.
Sampai tahap akhir hingga proses Mixing & Mastering bulan Juli lalu akhirnya rekaman ini di nyatakan selesai, begitu senang dan sangat puas ketika mengetahui bahwa pekerjaan ini mampu kita selesaikan dengan baik. Hanya saja waktu sempat memberikan kita banyak kendala dan kesulitan yang cukup membuat mood kita hilang.


Apa ada kisah atau sesuatu yang kalian ceritakan dibalik Album “The Boundaries Toward Lost Love” ?

Sebenarnya nama EP album kita “ The Boundaries Towards of Lost Love “ diambil dari beberapa kejadian yang mungkin pernah di temui oleh orang – orang disekitar kita. Bagaimana kita menghadapi suatu masalah ketika cinta telah memberikan rasa sakit, kecewa, lalu terjebak di dalam emosi, dan berharap mimpi buruk itu akan segera berakhir. Melupakan bagian – bagian potongan masa lalu pada sebuah kejadian yang telah dilalui bersama. Namun dampak lain dari hal tersebut akan memberikan kita suatu pelajaran bahwa kita harus bisa menerima cinta yang hilang. Dan saya kira itu sudah cukup menjelaskan sesuatu di balik nama EP album kita

Wizard album cover, i stole it from their bandcamp

Dari cover album kalian seorang gadis yang memegang bunga kenapa kalian memilih itu sebagai cover?

Nah, saya sudah menduga pertanyaan ini akan ada di interview. Karna sebelumnya banyak juga pertanyaan yang saya terima siapa gadis itu di balik cover tersebut? Oke jangan terlalu bahas lebih jauh tentang soal siapa gadis itu hehehehe.
Saya fikir jawaban nya adalah tidak lain dari jawaban pertanyaan ke 6 diatas tadi. Seorang gadis dengan memegang bunga menunjukan bagaimana kita telah terlepas dari suatu ikatan hubungan. Posisi gadis menunduk dengan duduk di atas bangku tersebut diartikan bahwa salah satu dari mereka sudah benar - benar pergi meninggalkan tempat itu, dan bunga tersebut juga diartikan sebagai tanda kehilangan pada peristiwa yang dikaitkan dengan kepergian / cinta yang hilang.
Jadi awal konsep ide cover kita itu terbilang mudah. Kita cukup menyamakan gambaran nya dengan nama EP albumnya. Hanya saja kita butuh pemeran seorang gadis yang mau kita jadikan objek sebagai cover untuk album nya saat itu.

Next project dari Wizard apanih? Rilisan lagi kah, Tour, atau mungkin yang lain?

Beberapa bulan ke depan kita akan melaksanakan Tour album kami ke beberapa kota di Jawa Tengah dan mungkin akan di jadwalkan sampai Jawa Timur. Semoga terlaksana dengan baik dan tidak ada kendala apapun. Dan rencana kedepannya juga kita akan kembali mencoba merekam lagu baru sebagai single 2017 yang nanti bisa kalian dengarkan di Bandcamp atau Soundclod kita.


Kalian juga bagian darah muda dari Kota Depok,mungkin ada harapan untuk kedepannya buat skena di Depok.

Bagi kami, Depok sudah memiliki peran nya masing – masing saat ini. Banyak band – band yang terbilang muda namun cukup kuat untuk membawa Depok menjadi kota yang wajib di kunjungi oleh band – band yang sedang menjalankan Tour.
Jadi harapan kedepannya dari kami semoga semua temen – temen disini senantiasa selalu mencintai scene / gig di Depok, bahkan dimana saja kalau bisa hehehe. Makin banyak venue di Depok yang bisa menjadi wadah tempat berkumpulnya ide, sharing, referensi dan lain – lain.  Jangan lupa membeli tiket sewaktu mau nonton band kesukaan kalian, jangan lupa untuk membeli rilisan fisik & merchandisenya, jangan malas untuk membaca, dan support terus band – band di Depok.
Jadi saya rasa interview ini sudah cukup sampai disini. Sekian dan terima kasih banyak buat kalian yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca. Much love


AE